Rabu, 07 Desember 2016
[Prototype] Rainy
Aku berdiri di samping tiang listrik yang hanya berjarak beberapa kaki dari taman kecil di kota tempatku tinggal. Sebuah payung melindungiku dari rintik hujan, seperti biasa, aku berdiri di sana menanti kehadiranmu. Kuusahakan pada kondisi yang sama; pakaian yang sama, tempat yang sama, perkiraan waktu bertemu yang sama, rintik hujan lembut yang sama, sepatu yang sama, kaos kaki yang sama dan payung yang sama. Tapi kau belum menampakkan–ah, bagaimana aku mengatakannya ya–batang hidungmu. Sayangnya, hal ini merupakan hal sama yang kau lakukan dulu. Aku tersenyum simpul menatap cipakan air hujan dekat kakiku.
***
Suara dering alarm memaksaku untuk bangun. Aku mengintip dengan malas dari dalam pelukan hangat selimut kosan. Tanganku berusaha menggapainya meski mata dan tubuh masih ingin berbaring. Pagi itu, kuusahakan untuk bangkit. Telingaku menangkap suara tak asing. Hujan. Hari ini hujan seperti kemarin dan lusa, aku hanya menghembuskan nafas dengan berat.
Tepat pukul 8 pagi aku sudah harus berada di kelas mata kuliah dosen jenius–lebih cocok disebut gila–Yang Mulia Ibu Ratu (sebutan ini cukup terkenal di kalangan mahasiswa) Rike Serjono Mudo. Dari angkatan uzur sampai yang masih berupa bibit lugu, sangat mengenal beliau. Dosen paling narsis, takabur, dan berisik. Cukup perkenalan tidak penting ini, kembali lagi ke situasi dan kondisi yang tengah kuhadapi. Agenda hari ini mengumpulkan tugas, persentasi, dan–oh! Tak lupa memakai payung untuk menghindari–
Derap langkah berpacu memecah genangan air. Bentuk tangan yang terasa familiar menepuk punggungku yang bidang, “duluan ya, Ron.”
“Oh, iya, Nit.” Aku hanya bisa memandang gadis setengah elf itu yang berangsur-angsur menjauh. Rambut panjangnya berwarna cokelat keemasan diikat menyerupai buntut kuda. Anting-anting kristal menghiasi daun telinganya yang agak panjang dari manusia normal. Pakaian modern melekat pada tubuhnya yang langsing. Serta wangi parfum beraroma cuddle menyeruak masuk ke rongga dada. Parfum yang masih sama ketika pertama bertemu dulu.
Tiga ratus tahun telah berlalu sejak perang antara manusia dan elf, kini mereka hidup berdampingan dengan manusia dan tinggal tersebar di seluruh penjuru dunia. Sayangnya akhir-akhir ini masalah rasis kembali bergejolak. Aku tidak tahu, berapa lama lagi dapat bertemu dengannya.
Hubungan kami? Entah bagaimana menjelaskan situasi penuh kecanggungan yang tidak sesuai dengan gaya bicaraku. Tapi akan kuceritakan sebaik yang bisa kulakukan sebagai alumni kelas bahasa. Aku mengenal Nita Kaelle sejak perpindahannya ke sekolah dasar yang sama denganku di bangku kelas 5 SD.
Sejak hari itu, err.. sebenarnya aku sama sekali tidak mempedulikannya. Rata-rata keturunan elf yang pindah ke sekolah kami pasti hanya singgah sebentar lalu esoknya entah kemana. Sebab sebagian besar siswa manusia biasa yang sekolah di sini belum dapat menerima keberadaan mereka, termasuk aku.
Aku tidak peduli ketika ia memperkenalkan dirinya di depan kelas–sebenarnya, tidak hanya aku yang tak mengacuhkannya. Aku bahkan tidak menyambut uluran pertemanan yang ia tawarkan. Seharusnya dengan begitu saja, ia akan menangis dan minta pindah ke sekolah berbeda. Tapi Nita berbeda, ia bersikeras untuk diterima meski dengan cara yang paling menyakitkan sekalipun–jujur, itu sangat sakit! Ia menonjok wajahku karena mempengaruhi yang siswa yang lain agar tidak berteman dengannya.
Setelah merasakan hantaman kepalan tangannya, aku baru menyadari ia berbeda. Gadis setengah elf tomboi yang terbentuk karena kurang kasih sayang orang tua. Tinggal bersama nenek dan kakeknya yang hidup dari uang pensiunan.
Aku merasa kasihan padanya, tapi Nita selalu berusaha untuk kuat. Ia bahkan marah pada orang-orang yang merasa kasihan padanya–mungkin hasil didikan tegas dan disiplin dari kakeknya yang merupakan mantan Pasukan Khusus Elf. Dan inilah Nita saat ini, sosok cerdas dengan IQ di atas rata-rata, kuat serta berkarisma di hadapanku. Ia berusaha membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sambilan dan jika dibandingkan denganku..? err.. hanya satu kata yang cocok untuk menggambarkan itu semua. Menyedihkan.
***
Rintik hujan membasahi jendela di samping kananku, dari jarak yang tidak begitu jauh–hanya menyeberangi sebuah taman rumput kecil–aku dapat melihatnya berkonsentrasi mengutak-atik komponen elektro. Bagaimana mengatakannya ya, kami berada dalam satu kampus yang sama dengan jurusan berbeda. Aku berkonsentrasi di bidang seni dan Nita di bidang teknik yang tidak kumengerti.
Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, tidak ada yang spesial. Aku mengeluarkan perlengkapan melukis dan berusaha menorehkan sesuatu di atas kanvas putih, bersih nan lebar. Tepat, minggu depan merupakan acara pekan seni tahunan yang biasa dilakukan fakultas yang menaungiku. Seluruh jurusan berbeda di kampus dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini hanya saja tetap memadukan unsur seni di dalamnya. Tidak ada ide. Jika bisa, aku tidak ingin ikut dalam kegiatan itu. Tapi apa boleh buat, aku sudah ditunjuk dekan untuk memeriahkan acara tersebut karena reputasi lukisanku yang telah membobol lomba tingkat nasional. Juara ketiga, tidak terlalu buruk.
Kosong. Kepalaku terasa ringan tak berisi. Padahal tidak banyak waktu yang tersisa bagiku untuk menyelesaikan lukisan yang belum kuketahui akan seperti apa. Sejak tadi jari-jemariku sudah menggenggam erat pensil sketsa, namun tak ada gairah dan keinginan untuk mencoretkan apapun. Hening dalam ruang seni. Kurebahkan tubuhku di lantai yang hanya beralaskan jaket, menatap langit-langit. Entah mengapa aku teringat pada masa-masa SMP kita dulu. Terpisah.
Aku memang tidak salah menilaimu. Nita, setengah elf tomboi menyedihkan yang cerdas tumbuh menjadi gadis jenius yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar kota. Itu.. luar biasa. Tadinya aku berpikir untuk melepas sosokmu dari dalam ingatanku. Hei, sudah enam tahun aku melalui kehidupanku yang datar tanpa kehadiranmu. Yah, tidak bisa dikatakan terlalu datar juga. Ada beberapa kenalan yang–
–bukan saatnya membicarakan hal itu.
Pikiranku kosong; aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi; menatap lekat-lekat kuas yang kugenggam erat. Lalu melihat ke ruangan seberang..
Dia tidak ada! Ini tidak biasa! Kemana? Kemana? Biasanya Nita selalu di sana hingga petang, tapi, tapi–
“Hoi.”
Jantungku terasa seakan berhenti mendadak. “Ah, oi. Lagi nyari angin, Non?”
“Gitulah, sumpek.” Si gadis yang muncul tiba-tiba di bawah ambang jendela kini bersandar santai.
“Melukis apa kali ini?” Tanyanya antusias.
“Yah, masih nyari inspirasi.”
“Asik nih. Boleh bantu dong?” Dia melompat masuk, semudah seekor kucing melompati atap rumah. Dengan cepat tangannya menyambar pensil dari tanganku. Lalu menorehkan sebuah titik.
“Tebak nih, jadi apa?”
“Hei! Ini gak lagi latihan buat psikotes tahu!”
“Sudah, sudah, duduk tenang di situ. Nah gitu. Ayo, sekarang ditebak.”
Aku menggembungkan pipi, lalu meneruskan titik kecil itu menjadi sebuah garis. “Sekarang giliranmu. Nih, ambil.”
Kami menggambar secara bergantian, tidak peduli hasilnya berupa pemandangan khas buatan anak-anak. Hari itu benar-benar menyenangkan dan tidak kusangka pada hari itu pula kali terakhir aku bertemu denganmu. Ahh.. tahu begitu, aku pasti akan menahanmu untuk pulang.
Memang bukan hal yang aneh jika kau bisa menyelesaikan kuliah hanya dalam waktu tiga tahun–apalagi jika kamu keturunan elf. Ditambah pemerintahan kita tidak menemukan jalan keluar dalam kesepakatan dengan Para Tetua Elf. Kondisi politik semakin memanas serta dikhawatirkan adanya konflik budaya. Akhirnya diputuskan demi keamanan bersama agar bangsa elf beserta keturunannya kembali ke tempat asal mereka. Aku tidak tahu kamu akan tinggal dimana, yang jelas terasa berat berpisah denganmu dengan cara seperti itu. Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaanku padamu.
Hari itu udara terlalu dingin untuk mengijinkanku terbangun dari dari hangatnya pelukan selimut tebal. Melalaikanku dari riuhnya bunyi alarm dan meninabobokan kesigapanku dari janji yang telah kita ucapkan untuk bertemu di sini, di sisi tiang listrik perempatan jalan menuju rumahmu. Seperti yang dapat diduga keterlambatanku tidak bisa ditolerir, tiga menit mangkir dari waktu yang telah ditentukan. Dan kau pun menghilang meninggalkan secarik kertas yang berisi tentang salam terakhirmu. Berdiri diam terpaku di bawah rintihan hujan. Entah kapan kita akan bertemu lagi.
Ah.. hari-hari itu telah berlalu. Kini aku masih menunggu di tempat yang sama, waktu janjian yang sama, dan kuusahakan memakai pakaian yang sama. Pakaian yang telah melekat erat dalam benakmu. Serta mungkin, kondisi hujan dan payung yang sama. Kuulurkan tanganku yang terasa dingin keluar dari naungan payung, mencoba merasakan tiap tetes air hujan. Rasanya masih sama ketika kita berpisah dulu.
Aku tersenyum simpul. Sudah lima jam berlalu aku berdiri di tempat yang sama. Tidak melakukan apapun selain mengingat kembali sosokmu yang kurindukan. Aku membalikkan tubuhku, memberi kesempatan pada kegiatan monoton lainnya selagi menanti dirimu yang tersayang kembali.
NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1329541-lomba-cerbul-kasfan-mei-13#comment_74818170
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar