Senin, 17 Oktober 2016
Insanity
Deru langkah kaki, gang sempit dengan penerangan lampu apartemen murahan, cipakan air berbau busuk, dan tak lupa pengejaran. Benar, saat ini aku sedang berlari menyelamatkan nyawaku dan tentu saja hal yang lebih penting daripada berlian. Notasi nada. Silakan tertawa, tapi benda ini setara dengan nyawa seorang Irct.
Irct–yaitu aku pun termasuk, sangat membutuhkan notasi-notasi seni ini untuk sekedar memperkuat sihir atau memperpanjang umur–terutama yang kelebihan harta dan tidak berkeinginan buru-buru mati. Hanya saja–ah, sial! Aku menginjak kotoran anjing! Notasi blok yang salah akan merenggut segalanya dari si pengguna yang ceroboh dan meninggalkan jejak kehidupan di belakang.
Anugerah sekaligus kutukan ini tidak dimiliki oleh seluruh ras Irct. Kebetulan aku dan beberapa Irctian–panggilan ini semacam sebutan kebangsaan jadi tak perlu ambil pusing memikirkannya–yang memilikinya. Bahkan Beethoven pun akan menangis saat mengetahui kemampuan unikku ini–sayangnya dia sudah lama mati. Segala prosesi pinjam-meminjam ini diawali dengan berjejalan di tengah gedung orkestra mewah dalam samaran penikmat musik kaya raya. Lalu dengan diam-diam aku memilah dan memilih nada inti dari nada pendukung lainnya. Tidak hanya telinga yang berperan dalam kegiatan yang hampir merenggut nyawa jika ketahuan, tetapi juga kejelian mata.
Aku tidak tahu apa yang rekan seprofesiku juga memilikinya, hanya saja saat lantunan melodi dimulai, aku dapat melihat segalanya dalam rumus aljabar. Lalu dengan memanfaatkan mantra pengikat, aku memadatkan inti atom notasi balok menjadi sebesar kelereng yang tingkat kerapuhannya setara dengan telur ikan salem. Begitu kelereng itu penuh terisi maka yang tertinggal hanya kesunyian. Artinya buku partitur baru, alat musik baru dan keuntungan berlimpah bagi pedagang yang bekerja sama denganku.
Walaupun terlihat mudah, namun tidak demikian dengan kenyataannya. Setiap notasi yang dimainkan memiliki nada murni, itulah yang kukumpulkan untuk meraup tumpukan uang. Pernah sekali aku mencampurkan nada murni dan nada pendukung hasilnya tidak begitu baik, malah menimbulkan penyakit mengerikan. Ibaratnya seperti donor darah, tidak boleh pendonor yang tengah mengkonsumsi obat atau sedang menderita penyakit mematikan–kurang ajar! Siapa sih yang membuang sampah sembarangan seperti ini?!
Kau penasaran dengan si konduktor? Oh, jangan khawatir. Seni akan selalu hidup, sebab yang kuambil bukan kemampuannya tetapi hasilnya. Yang bersangkutan akan selalu berinovasi menciptakan karya baru. Oleh karena itu, setiap konduktor memiliki ciri khas masing-masing pada buah karya mereka yang sangat dikenal di tempat lelang.
Duh, mereka manusia bukan sih?! Tidak biasanya petugas pengamanan berlari mengejarku sejauh dan selama ini. Aku menghapus riasan penari erotis kelab malam dari wajahku, melepas hidung dan gigi palsu, serta lensa kontak dari mataku–dengan begitu perbedaan signifikan antara Irct dan manusia terlihat jelas. Irctian memiliki hidung kecil yang lancip, bola mata setajam ikan hiu, dan gigi geligi runcing. Sebenarnya tidak ada diskriminasi antara manusia dan Irct–terutama yang berkantong tebal, aku bisa saja masuk tanpa samaran. Sayangnya, pekerjaan yang tingkat kelegalannya dipertanyakan ini membutuhkan kehati-hatian agar tidak masuk daftar buronan.
Sudah waktunya aku menghentikan permainan kucing-kucingan ini–di saat begini nada-nada sumbang sangat berguna. Aku merogoh mantel berkerah bulu hewan yang kukenakan, mengambil sebutir notasi kecil. Merapal mantra pelepasan sederhana. Kulempar dengan santai ke arah penjaga-penjaga bertubuh atletis berbalut jas hitam selicin oli bekas. Begitu kelereng empuk itu menyentuh permukaan tanah becek gang, sebuah ledakan setara granat mementalkanku ke depan. Aku jatuh berguling sebelum terjerembab ditumpukan sampah organik membusuk. Aku tidak menyangka efeknya bisa separah ini… hancur sudah mantel, setelan jas mahal, dan sepatu kulit bermerek ini.
***
Aku berjalan gontai melalui kawasan pertokoan kumuh dan memasuki sebuah rumah produksi film porno kecil-kecilan. Menaiki tangga menuju lantai kedua. Sudah ada tiga Irctian di sana yang sibuk menutup hidung dan mengomel karena bau yang menguar dari tubuhku.
“Tangkapan besar yang heboh, Ert. Kulihat kau membawa oleh-oleh yang menarik di kepalamu.” Feir menawarkan rokok.
“Berisik Feir.” Aku menyingkirkan kubis busuk yang lengket dari rambutku. “Aku bahkan tak bisa membeli sebungkus rokok dengan ini. Pengawasan kali ini lebih ketat dari sebelumnya, aku terpaksa berlari melalui pintu keluar darurat. Padahal harga tiketnya selangit.” Aku mengambil sebatang, lalu menyulutnya.
“Ert,” suara berat dan bergetar seperti erangan beruang yang terbangun dari hibernasi panjang, memanggilku pelan. “Kau mengotori karpet persiaku yang mahal.”
“Ah, maaf, Dan. Akan kutanggung biaya penatunya jika mendapat bayaran. Jadi, ada kerjaan apa kali ini?”
Dan menghela napas. “Baiklah, akan kupotong bagianmu begitu mendapat uang dari klien. Kau tidak pernah menepati janji, Ert.” Aku hanya dapat tersenyum kecut mendengar pernyataan itu.
“Baiklah, tugas kali ini ambil notasi nada konduktor muda yang baru naik daun, Axealia van Forthress atau yang lebih dikenal dengan nama Lady Madness.” Dan membagikan profil Axealia pada kami, kecuali Feir. Aku membuka-buka informasi itu dengan teliti. “Seperti yang kalian ketahui, penjagaannya seketat lemari besi di bank internasional.” Lanjutnya. “Ert kau bagian depan. Edeast kau bertanggung jawab di keamanan sedangkan Elda atur kamera pengawas agar Ert tak tertangkap. Untuk Feir, aku punya pekerjaan khusus untukmu. Kita perlu berbicara berdua. Ada pertanyaan?” Tanya Dan memastikan.
“Kapan dimulai?” Tanya Edeast singkat.
“Lady Madness kita akan tiba dua hari lagi. Ini kartu masuk kalian untuk persiapan. Oh ya, Ert,” Dan mengamatiku. “Beli setelan baru.”
***
Besok pagi saja aku membelinya, hari ini aku benar-benar lelah. Aku melepas pakaian dan sepatuku lalu memasukkannya dalam kantong plastik hitam untuk dibuang. Kemudian berendam dalam bak sambil melepas penat. Ini surga sederhana dalam kehidupanku yang menyedihkan.
Pada dasarnya aku bekerja sendirian. Namun jika dibutuhkan untuk pekerjaan skala besar dan berbahaya aku tidak keberatan menyewakan keahlianku untuk menambah saldo tabungan. Dan Alexander, seorang penyedia jasa informasi yang akurat. Kau perlu uang untuk mendapatkan info darinya. Terkadang ia menjadi broker untuk klien yang hidup dalam bayangan seperti tadi. Aku hanya menerima perintah, namun tak dapat mengorek informasi klien yang memberi permintaan.
Dalam pekerjaan yang kugeluti ini, kepercayaan bukanlah hal yang dapat diberikan dengan murah. Hanya dengan ikatan seperti ini, kami bisa saling mengandalkan. Namun begitu kontrak selesai, semuanya kembali menjadi musuh. Pencuri yang lain bisa menjaring hasil tangkapan yang sudah susah payah kau perjuangkan.
Aku mengambil salah satu kelereng dalam bentuk padat yang dibiarkan berserakan di sisi pojok bak. Merapal mantra penghancur ikatan. Alunan orkestra lembut memenuhi kamar mandi di apartemen termurah dan tak layak huni. Aransemen Heint Cassandra ini, merupakan hiburan favoritku dibanding televisi. Itu sebabnya aku memadatkan secara permanen karya miliknya untuk diriku sendiri. Begitu aransemennya selesai, mereka akan kembali ke bentuk semula. Tapi jika masih dalam bentuk telur salem, begitu menelannya, dia akan hilang terserap tubuh.
Jika dipikir-pikir, hidupku di masa lalu tidak sememalukan ini. Aku tinggal di rumah mewah, diantar-jemput dengan kendaraan mahal, dan selalu ada pelayan yang menyiapkan kebutuhanku. Lalu segalanya musnah begitu rasa seni dalam mengaransemen lagu milikku hilang. Tepat, seseorang telah merenggutnya dariku. Namun aku belum memiliki saldo yang cukup untuk membeli informasi yang dimiliki Dan. Harap maklum, aku baru terjun ke bisnis hitam ini. Jadi, masih membangun citra untuk memperoleh bayaran yang mahal.
Aku mengambil handuk, mengeringkan tubuhku lalu mengenakan kaus berlengan pendek dan celana buntung. Saatnya istirahat.
***
Masih tiga jam lagi sebelum konser dimulai. Namun lobi hotel telah dipadati tamu-tamu super penting dari berbagai kalangan dan status sosial. Malam ini konser Lady Madness diadakan di auditorium mewah hotel berbintang tujuh. Harga tiket masuknya pun jauh lebih mengerikan dari biasanya. Jika memakai uangku sendiri mungkin aku harus hidup menggelandang selama setahun karena harus menutup pinjaman di sana-sini.
Hingga saat itu sepertinya aku harus sedikit ber–uh-oh! Bukankah itu Feir? Yah… dengan menghapal kebiasaan serta gerak-gerik partner kerjamu, kau akan terhindar dari kerugian akibat kehilangan hasil tangkapan. Tapi bukannya ia memiliki tugas yang lain? Apa yang dia lakukan di sini?
Aku melihatnya naik elevator sendirian. Pintu tertutup, aku memerhatikan angka yang bergerak lalu berhenti. Aku bergegas ke toilet pria, mengunci pintunya kemudian naik ke atas wastafel dan membuka penutup saluran udara di dinding. Aku melompat kecil untuk mendorong tubuhku masuk lalu menutupnya kembali. Aku merangkak menelusuri lorong besi sempit, lalu menendang kipas yang berputar pelan hingga membentur dinding seberang lalu jatuh menimbulkan bunyi nyaring yang menggema. Kuharap tidak ada yang menyadarinya, mengingat suasana lobi hotel seramai pasar malam. Aku menjulurkan kepalaku, mengamati elevator yang berhenti jauh di atasku.
Ini kesempatan bagiku untuk menyusup naik melalui tangga besi berkarat. Akan sangat lama jika menanti elevator turun, lagipula belum tentu akan berhenti di lantai yang kutuju. Aku merayap naik dengan cepat berlomba dengan elevator yang bergerak turun. Untuk menghindari tabrakan yang tidak diinginkan, aku menempelkan punggungku di dinding sambil menahan bobot tubuhku pada kaki dan tangan sebelah kanan. Elevator itu berhasil melewatiku tanpa luka, aku melanjutkan perburuanku. Lantai dua puluh tiga masih jauh akan makan waktu lama jika aku bertahan pada cara manual.
Kurogoh saku celana sebelah kiri, mengambil sebutir, lalu memasukkannya dalam mulut dan menelannya. Rasanya tubuhku dipenuhi energi baru. Inilah pentingnya menyimpan beberapa butir untuk jaga-jaga. Aku menghentakkan kaki, dalam sekejap aku terlontar ke atas. Aku menghitung kipas sirkulasi udara, lalu bersalto, mendarat di dinding, kemudian mendorong tubuhku menerobos baling-baling yang berputar malas. Aku merapal sebuah mantra, bulatan kecil berpendar merah mengapung. Ia bergerak tenang. Aku mengikutinya hingga berhenti di sebuah kamar, kurasa. Bulatan cahaya itu meletup tanpa meninggalkan bau. Oh, sepertinya aku belum ketinggalan acara puncaknya.
“Feir! Apa yang kau lakukan di sini?!” Suara seorang perempuan terdengar berang.
“Tentu saja melakukan permintaan klien. Aku hanya datang mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Jadi tidak masalah jika kau kelak kau akan kehilangan hal itu, bukan begitu Milady?”
“Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku! Ada dua penjaga di luar, aku tidak tahu baga–”
“Mereka sudah lama tertidur, itu sebabnya aku bisa keluar-masuk sesukaku tanpa terganggu. Oh, dan jika kau mencari ponselmu, dia ada di sini.”
“Kau!”
“Ah, ya, aku lupa memberitahumu. Sayang sekali teleponnya dicabut akibat tagihan yang menumpuk.” Aku mendengar ketukan sepatu di lantai. “Percuma saja kau berteriak, satu koridor ini sudah disewa promotormu untuk keamanan, jadi sudah saatnya kita menyelesaikan permainan murahan ini, bukan begitu?”
“Hentikan!”
“Lagipula, bakat bermusik ini didapat dengan cara yang sama dari seorang Irctian unik yang langka. Jadi, jika ingin mendapatkan kembali, kau bisa menghubungi Dan, untuk membuat kesepakatan harga.”
Aku tercengang mendengar pernyataan terakhir Feir. Sepertinya keadaan semakin memburuk. Aku merogoh sakuku dan menelan sebutir lagi. Rasanya energiku kembali terisi penuh. Aku menyentuh lantai besi yang dingin, merapal mantra. Dari tanganku berpendar cahaya putih terang, tidak lama kemudian sebuah ledakan menciptakan lubang di bawah kakiku. Aku melompat turun.
Debu setebal kabut menutupi ruangan, tapi sesuatu berpendar kebiruan bersinar di pojok kamar. Dalam sekejap aku merebutnya. “Terima kasih Feir, telah berbaik hati mengembalikan benda yang kucari selama ini. Tidak kusangka, kau si pencurinya.”
“Wah, Ert, mencuri dengar itu tidak baik, lho.” Feir mengacungkan lengannya ke arahku.
Ah, ungu. Aku melesat menyeberangi kamar. Plasma berwarna ungu itu menempel dinding lalu melelehkan pintu dan sebagian dinding, menciptakan lubang besar. Dia benar-benar berniat membunuhku. “Feir, kau salah jika bakatku hanya untuk menciptakan lagu.” Aku menelan batu persegi berpendar kebiruan itu. Mengayunkan tanganku menciptakan paranada tanpa notasi. “Akor C, cocok untuk mengikat tanganmu!”
Wajah Feir terlihat kesal, ia menggeliat berusaha melepaskan ikatan yang membelenggunya. “Edeast! Elda!”
Seketika si kembar muncul di kedua sisi tubuhku. “Tidak kusangka si pengecoh justru menyebabkan masalah merepotkan seperti ini.” Ujar Elda dingin.
Pengecoh? Itu artinya, sejak awal mereka berniat untuk mengambil bakat bermusik. Aku hanya dijadikan umpan! Jangan bercanda! “Ah… kuperhatikan kalian memiliki pendengaran yang tajam.”
“Edeast!” Elda memperingatkan, namun si gadis berambut cokelat sepanjang bahu menerjangku.
Sayangnya dia terlambat! “Akan kupersembahkan lagu pengantar tidur yang manis untuk kalian, hingga telinga kalian berdarah!” Suara berfrekuensi tinggi menggema hingga ke ujung lorong, suasana kembali hening.
Aku berjalan melalui lubang besar, merapikan setelan jasku, lalu menekan tombol turun elevator. Feir dan kedua saudara kembar itu tengah tak sadarkan diri. Mungkin ketika mereka bangun nanti, mereka hanya melihat dunia ini dalam sunyi. Yah… itu bukan urusanku sih, yang penting aku mendapatkan kembali apa yang kucari selama ini.
Aku melangkah masuk, menekan tombol lantai dasar. Tidak ada satupun orang yang berhak menyandang ‘kegilaan’ milikku. Aransemen milikku tidak hanya terpaku pada partitur cetak. Itu sebabnya aku akan pergi dari negara ini. Dan meniti karirku dari awal lagi. Balas dendam pada Dan? Oh tidak, tidak. Aku masih menyayangi nyawaku. Aku tidak mau berurusan dengan penghuni dunia hitam.
NB; hanya ikut memeriahkan di https://www.goodreads.com/topic/show/1745844-lomba-cerbul-kasfan-maret-14?page=1#comment_number_28 ==”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar