Selasa, 06 Mei 2014

Burning Night



“Bagaimana menurutmu, dr. William, positif si gila itu pelakunya?”


“Sungguh, Sir Arthur, tolong panggil saja Will. Will saja sudah cukup. Menjawab pertanyaan anda, saya yakin seratus, ah tidak, seribu persen. Ini jejaknya, Sir.”


“Aku sama sekali tidak menduga, setelah Borneo, Sumatra, dan Jawa Tengah, ia mencoba bereksperimen di Sunda Kecil.”


“Sepertinya dia ingin mengembalikan kejayaan Pemerintahan Belanda, Sir. Beruntung kita dapat memasuki wilayah Indonesia, berkat jasa Brigade MacDonald.”


“Meski begitu, aku bersyukur pemerintahan Indonesia mau bekerja sama dengan menerima Sekutu Inggris. Yah… mengingat bangsa barat telah meninggalkan noda luka yang cukup dalam di sini.” Arthur mengamati raut wajah pribumi yang berkumpul di sekitar lokasi pembunuhan.


Dia berbalik dan kembali fokus dengan masalah yang tengah dihadapinya. “Si psikopat itu, bagaimana mungkin mendapat kepercayaan dari pemerintahan tempatnya berasal untuk mengerjakan hal tak masuk akal seperti ini!” Arthur mengambil korek gas dari balik jas hitam, lalu menyalakan cerutu yang sejak tadi mati.


“Kalimatnya Sir, kalimatnya.”


“Oh tentu,” Will dan Arthur mengucapkan bersamaan, “kita sudah berada di Hindia selama 300 tahun, kita pasti harus bisa berada di sini selama 300 tahun lagi!, Bonifacius Cornelis de Jonge.”


***



“Dia berada di Bandung Utara, Sir. Dengan memperhatikan lokasi orang-orang yang kebetulan ditemukan mati dan hilang tanpa jejak. Hanya saja, Sir, yang membuat saya penasaran, mengapa Bonifacius tidak bergerak di Djakarta saja, jika menginginkan ‘pasukan’?”


“Will, Djakarta itu ibukota pusat. Keamanannya bisa lima kali lipat daripada di Bandung. Hal itu bisa menyulitkannya untuk bergerak. Menurutmu mengapa dia bertindak di sini?”


“Penduduk padat dan keamanan yang longgar, Sir?”


“Tepat, Will. Jenius! Pertanyaannya sekarang, dimana dia bersarang?”


Ketukan lembut pada pintu kayu jati pada rumah yang dipinjamkan Gubernur Jawa Barat, membuat Arthur bangkit dari sofa empuk. Dan bergegas menuju pintu untuk bertemu tamu-tamunya. “Selamat datang tuan-tuan. Senang bisa bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang yang dapat memahami situasi serta mengedepankan logika daripada rasisme.”


“Kami sudah mendengar ceritanya secara lengkap dari Tuan Brigade MacDonald.”


“Anda sangat mahir berbahasa asing, Sir…?”


“Muhammad Toha, panggil saja Bung Toha. Panggilan ‘Sir’ terlalu tidak biasa di sini.”


“Baiklah, dan kawan anda ini?”


“Bung Ramdan.” Jawab Toha singkat.


“Silakan duduk dimana pun anda sukai tuan-tuan. Kita akan mendiskusikan masalah ini secara terperinci. Tapi sepertinya kita akan melanjutkan pembicaraan ini di meja makan.” Arthur mencium wangi masakan memenuhi ruang tamu yang disinari cahaya temaram lilin. “Kuharap makanan yang disediakan pelayan kami berkenan di lidah Bung Toha dan Bung Ramdan.”


Seorang pelayan berambut pirang dengan wajah keras muncul dari dalam koridor. “Makan malamnya sudah siap, Sir.”


***


“Sup kentang yang hangat bukan? Cocok dengan udara Kota Bandung yang dingin.” Arthur berkomentar. “Ah ya, mengenai pembicaraan kita tadi. Saya hanya ingin mengatakan, penduduk negeri ini sama sekali tidak mengetahui bahaya yang akan kalian, ah tidak, kita semua hadapi.”


“Eksperimen manusia itu, maksud anda?” Tanya Ramdan memastikan.


“Ya, tapi jika merunut jauh melalui sejarah, penjelajahan kelam sumber rempah yang diawali Bangsa Eropa hingga memotivasi gerakan Jepang, bukanlah bertujuan untuk menyebar teror seperti yang dirasakan saat ini. Pada dasarnya, penjelajahan itu bersifat humanis melalui perdagangan. Hanya saja, anda pasti mengerti ada orang-orang tertentu yang menginginkan kekuasaan dan meraup keuntungan untuk dirinya sendiri bukan? Hanya saja, hal itu tidak dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok. Tapi sebuah negara.”


“Belanda.” Ujar Toha lirih.


“Kurang lebih demikian, menurut bukti-bukti yang mengarah pada sekte keagamaan VOC.” Arthur menyesap sup dari sendok di tangannya. “Orang-orang VOC ini, bukanlah serikat dagang seperti yang kita kenal dalam catatan sejarah. Mereka adalah sekumpulan fanatik yang ahli bernegosiasi dan memanipulasi orang-orang dari segala belahan dunia untuk menjadi mata-mata dalam negaranya sendiri.” Will menyerahkan berkas-berkas terkait informasi yang disampaikan Arthur.


“Sebagai contoh, orang-orang VOC ini mencuci otak para komandan pasukan yang bersinggungan langsung dengan anak buah dan lapangan. Singkatnya, merekalah yang mengatur komunikasi antara atasan dan bawahan. Tidak menolak kenyataan bahwa serangan-serangan yang dilancarkan, dilakukan untuk mengadu domba segala lapisan, sesuai dengan semboyan mereka, devide et impera. Hal itu tentu saja dilakukan demi menutupi eksperimen rahasia, anggaplah seperti pengalih perhatian.”


“Tapi saya tidak menyangka, para jenderal besar mereka dapat dibodohi seperti itu.” Toha memberikan setengah berkas itu kepada Ramdan.


“Well, laporan dapat dimanipulasi. Apa yang anda harapkan dari jenderal-jenderal manja itu, Bung? Saat ini, mereka lebih senang duduk di kantor dan menerima laporan jadi tanpa melihat ke lapangan. Para komandan pasukan bisa saja memberikan ancaman agar tak ada yang melapor ke atasan. Kalaupun ada yang membelot, sudah pasti besok hanya tinggal nama saja. Dan begitu para jenderal itu sadar dipermainkan oleh bawahan kepercayaannya, mereka sudah hancur dikepung musuh.” Arthur melahap satu suap sup terakhir.


Si pelayan mengambil piring sup dan menggantinya dengan hidangan utama. “Oh, terima kasih Edward. Daging panggangnya terlihat menakjubkan.” Arthur telah siap dengan garpu dan pisau. Ia mengiris kecil ujung daging sebelum memasukkannya ke mulut. “Mari saya berikan fakta menarik tentang VOC pada anda, mereka telah merekrut dokter-dokter jenius dengan kepribadian yang bermasalah untuk menciptakan pasukan perang abadi.”


Toha terbatuk, ia segera menyeka mulutnya dengan sapu tangan lalu meneguk air mineral. “Apa maksud anda?”


“Saya sendiri belum melihat secara langsung seperti apa bentuknya. Sepertinya, kami selalu terlambat begitu mengetahui lokasi laboratorium yang digunakan Bonifacius. Meski demikian, kami berhasil mendapat beberapa catatan dan laporan intelijen kami yang menunjukkan hal itu. Bonifacius bermaksud menggabungkan unsur supranatural atau yang biasa kita kenal dengan sihir dan ilmu kedokteran.”


“Itu gila!” Toha terperanjat, ia berdiri dari kursinya.


“Ya, kegilaan merupakan bagian dari kejeniusan itu sendiri, Bung. Maaf jika tak keberatan, silakan duduk kembali.”


“Maaf.” Toha kembali duduk dengan wajah merah padam. “Yang tidak saya mengerti adalah apa kaitan Bonifacius dan VOC?”


“Pertanyaan cerdas, Bung!” Arthur memotong daging panggangnya lagi. “Saat ini, Bonifacius adalah pemimpin mereka.”


“Bagaimana mungkin?! VOC bahkan sudah dibubarkan tahun 1799!”


“Anda sungguh orang yang bersemangat, Bung Toha. Ingat yang telah saya katakan sebelumnya, informasi dapat dimanipulasi. Bisa saja pengumuman pembubaran itu adalah kamuflase, agar mereka dapat bergerak lebih lincah dalam bayangan pemerintah.” Arthur menyesap anggur putih. “Ini masih perkiraan, tapi sepertinya Belanda bermaksud menjadikan Asia Tenggara sebagai pabrik ‘amunisi’ dengan manusia sebagai bahan dasarnya. Syukurlah, kami sudah menguasai Malaysia sebagai langkah awal pencegahan.”


“Publik! Bagaimana dengan publik? Apa sudah diketahui secara luas?”


“Sayangnya belum.” Arthur menggeleng. “Informasi ini masih belum sampai ke publik. Salah-salah, bisa menyebabkan kepanikan massal. Bisa jadi itulah tujuan utama mereka.” Arthur kembali menyesap anggur. “Ngomong-ngomong, Bung Toha. Saya perhatikan, Bung Ramdan banyak terdiam. Apa terjadi sesuatu dengannya?”


“Jangan khawatir, Sir. Dia tidak begitu mahir berbahasa asing, walaupun ia memahami sedikit. Meski begitu, Bung Ramdan ini orang yang sangat penting dalam misi kita. Dia sangat ahli memetakan dan dapat memperkirakan lokasi yang berpotensi untuk dimanfaatkan Bonifacius.”


“Oh! Itu luar biasa, Bung Toha!” Seru Arthur girang.


“Jika begitu, saya mohon izin untuk berbicara sebentar dengannya, Sir.”


“Tentu, tentu.”


Toha dan Ramdan berbicara dalam bahasa Indonesia. Arthur dan Will hanya memperhatikan reaksi kedua orang itu, mereka benar-benar tidak memahami bahasa pribumi. Begitu pembicaraan singkat penuh emosional berakhir, Toha telah siap memberitahu hasil diskusi mereka.


“Menurutnya, daerah yang paling berpotensi adalah sekitar Desa Dayeuhkolot, Sir. Di sana terdapat gudang amunisi. Meski telah dijaga ketat, namun saya agak sedikit meragukannya. Seperti kata anda tadi, bisa saja sekte VOC telah campur tangan memengaruhi pikiran mereka.”


“Baiklah, jika begitu tujuan kita sudah jelas. Kapan kira-kira kita bisa mengunjungi tempat itu?” Tanya Arthur antusias.


“Sebaiknya kita melakukannya di saat fajar belum menyingsing untuk mengurangi perhatian musuh. Sekitar pukul dua dini hari ini kita berangkat.” Jawab Toha mantap.


“Semakin cepat, semakin baik. Jika begitu, sudah saatnya kau membawakan hidangan penutup, Ed. Aku tak ingin bangun kesiangan.”


***


“Sebelah sini, Sir. Ada jendela kecil untuk mengintip ke dalam.” Bisik Ramdan kaku.


Arthur mencoba memfokuskan pandangannya untuk melihat ke dalam dengan cahaya minim. Dia terperanjat, nyaris berteriak jika Will tidak membekap mulutnya. “Terima kasih Will.” Perasaan Arthur kembali tenang. “Di dalam sana jauh lebih luas dari yang terlihat. Sepertinya dibangun dengan menggali dasar tanah untuk menghilangkan kecurigaan. Dan tadi aku sempat melihat semburat cahaya ungu, sepertinyanya mereka tengah melakukan ritual. Kelihatannya, pasukan ini siap diluncurkan nanti pagi. Kau punya ide untuk mengevakuasi seluruh penduduk dalam waktu singkat, Bung Toha?”


“Tunggu sebentar.” Toha kembali berbicara dengan Ramdan dengan nada perintah. Ramdan bergegas pergi melaksanakan instruksi Toha. “Ramdan akan mengirim telegram dari sini kepada Komandan Divisi III TRI, Kolonel Abdoel Haris Nasoetion, aku memintanya agar ia mengirimkannya dengan hati-hati supaya tidak ketahuan. Apa sebaiknya kita pergi dari sini, Sir?”


“Belum, belum saatnya. Kau tahu dimana penyimpanan alat peledak?” Tanya Arthur.


“Ada di sekitar sini, Sir.”


“Bisakah kau mengantar kami ke sana, Bung? Kurasa kita akan membutuhkannya untuk berjaga-jaga.”


***


“Ini lebih dari cukup, Sir.”


“Masih kurang, Will. Kuharap para pribumi ini memiliki gudang peledak lainnya. Aku sudah meminta Toha untuk menambahkan isi telegramnya.”


“Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan ini semua, Sir?”


“Kita akan menyebarnya di sini terlebih dulu, untuk memperlambat gerak monster-monster itu. Kau mengingatnya ‘kan, Will?”


“Catatan setengah terbakar yang kita temukan di Jerman, Sir?”


“Ya. Makhluk-makhluk ini lemah terhadap api. Tapi tidak menolak kemungkinan jika mereka telah melakukan beberapa perbaikan. Mengingat kegagalan mengerikan yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Di mayat-mayat dengan luka bakar parah itu, kita menemukan pentagram serupa. Sepertinya percobaan mereka gagal lalu meledakkan laboratorium raksasa bernilai triliunan layaknya rumah bordil murahan hanya untuk menghilangkan jejak. Pada akhirnya, Hitler-lah yang harus menanggung akibatnya. Cepat, sebar dinamit-dinamit ini. Waktu kita tak banyak.”


***


Dua pintu gerbang besi terbuka, menimbulkan suara berderit berat yang membuat ngilu tulang. Deretan manusia berjalan pincang, mereka menyebar tak beraturan menuju pemukiman. Tidak satu pun diantara mereka yang merasa terganggu begitu menendang alat peledak yang disebar sembarangan.


Arthur dan Will mengamati dari balik bukit kecil dekat gudang. “Itu mayat, Sir! Mayat hidup!” Will terbelalak.


“Ya, atau biasa disebut zombi, Will. Kau pasti pernah membaca beberapa keterangan tentang ajaran voodoo ‘kan?” Arthur mengernyitkan kening. “Mereka bergerak terlalu cepat dari waktu yang kita perkirakan. Kuharap kota sudah kosong, Will.” Arthur mengeluarkan pengendali jarak jauh. “Mari kita mulai pesta kembang apinya.” Arthur menekan empat tombol merah sekaligus. Ledakan terjadi secara berentetan menuju gudang. Membakar dan menghancurkan apapun di dekatnya. Melontarkan potongan-potongan tubuh yang telah membusuk hingga tujuh ratus meter. Namun masih tidak cukup. Pasukan lainnya muncul dari dalam kobaran api, menghiraukan pesta penyambutan yang heboh.


“Saatnya kita pergi, Will. Kuharap Ford GP yang mengantar kita ke bukit ini, masih bisa menempuh perjalanan jauh.” Arthur menekan tombol merah terakhir, sebelum menyalakan mesin mobil yang masih hangat.


***


Matahari telah setinggi tombak saat Arthur memacu roda mobilnya di jalanan sepi. “Di sana, Sir! Mereka membuat barikade di jalan utama!”


“Syukurlah, kita bisa memberi kabar pada yang lain melalui mereka.” Arthur menginjak gas lebih dalam. Lalu mengerem dan memarkir serampangan. Ia melompat turun dan berlari menuju tiga prajurit yang menatap heran. “Panggilkan aku komandan kalian!” Salah seorang dari mereka bergegas menuju pos.


Seorang pria bertubuh gempal keluar tergesa-gesa, sambil menjinjing senjata. “Ya, Sir?” Ia terengah di hadapan Arthur.


“Bagaimana kondisi kota?”


“Masih dalam tahap evakuasi, Sir.” Jawabnya singkat.


“Pemerintahan kota?”


“Masih bertahan di dalam kota, Sir.”


“Sebaiknya kalian ikut dalam rombongan evakuasi.” Arthur bergegas menuju pos.


“Kami diperintahkan untuk melakukan evakuasi begitu anda dan teman anda datang.”


“Jika begitu jangan buang waktu. Sambungkan radio ini dengan Kolonel Nasoetion! Aku perlu menyampaikan situasi.”


Radio itu langsung terhubung ke Balai Kota. Arthur segera menjelaskan keadaan yang semakin tak menguntungkan itu. “Kami masih belum bisa memastikan daya serangan mayat hidup yang kami lihat. Sepertinya mereka bergerak cukup lambat. Dengan memperkirakan jarak berdasarkan kecepatan langkah mereka, bisa jadi sampai di Bandung Utara sekitar pukul tiga siang.” Lapor Arthur. “Meski begitu,” lanjut Arthur ragu. “Kami sempat melihat, betapa cepat dan cekatannya mereka bergerak begitu memangsa hewan ternak warga.”


“Anggota pemerintahan masih akan bertahan untuk melaporkan keadaan pada yang lain.”


“Segera kosongkan dan ikut evakuasi, Kolonel!”


“Lalu, bagaimana kami bisa tetap terhubung dengan yang lain jika kami meninggalkan tempat ini?!” Tolak Nasoetion keras kepala.


“Seluruh kota telah diberi dinamit, bukan?! Kita perlu menyelamatkan diri!”


“Masih belum semua tempat dipasang, kami masih menunggu laporan perkembangannya.” Nasoetion terdiam sejenak. “Jika perkataan anda benar, berarti kita harus memancing mereka ke lokasi pengeboman.” Radio terputus.


“Apa mereka sudah gila?!” Arthur melempar telepon radio sekuat tenaga hingga rusak. “Mereka ingin mengorbankan diri mereka sendiri!”


“Kau dan anak buahmu segera naik. Tunjukkan rute evakuasi, akan kuantar kalian ke sana.”


***


Suara letusan tembakan menggema sepanjang lorong. “Sial! Mereka tidak ada habis-habisnya!” Arthur mengisi peluru.


“Kita akan mati!” Jerit Nasoetion pilu.


“Tidak, Kolonel.” Arthur menembak sambil menggunakan dinding sebagai perisai. “Kalau digigit, kita tidak akan mati. Kita akan menjadi seperti mereka!” Arthur menarik tangan Nasoetion. Memaksanya berdiri dan berlari menyelamatkan diri.


Will muncul dari pintu darurat. “Lewat sini! Kita akan bisa langsung ke bawah menuju pintu darurat ini!”


“Laporkan jalurnya, Dokter!”


“Aman, Sir. Kelihatannya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menerobos pintu tertutup yang berat seperti ini.” Will mengganjal pintu dengan batang besi. “Tolong, Sir. Will saja cukup.”


Arthur, Will, dan Nasoetion bergegas menuruni tangga. “Kau membawa alat pemicu peledaknya, Kolonel?”


“Ya, aku membawanya.” Nasoetion menyerahkan pengendali jarak itu pada Arthur.


“Tombolnya jauh lebih banyak, dari yang kurakit. Kurasa Kota Bandung akan terlihat seterang siang.”


“Tak perlu hiraukan hal itu, Sir. Yang penting mayat-mayat itu musnah tak bersisa.”


“Kuharap begitu, Kolonel. Kuharap begitu.”


Mereka sampai di dasar lantai. Will mengintip dari celah pintu darurat. “Kelihatannya zombi-zombi itu tengah sibuk di atas, Sir. Terkait pelarian kita yang cukup meriah tadi.”


“Jarak kita dengan kendaraan, Will?”


“Saya memarkir kendaraan kita terlampau jauh, Sir. Jaraknya sekitar seratus meter.”


“Kurasa cukup semenit untuk sampai di sana.”


“Tiga puluh detik, Sir. Saya menyarankan tiga puluh detik.”


“Yah… itu tergantung tamu kita, Will.” Arthur menatap Nasoetion. “Kuharap kaki anda masih selincah kijang, Kolonel.”


“Aku dapat mengusahakannya.”


“Baiklah, pada hitungan ketiga kita melesat keluar dari sini. Siap?” Arthur mengamati Will dan Nasoetion, mereka mengangguk mengerti. “Tiga!”


Pintu darurat terbuka lebar. Tiga pejuang yang tersisa berlari melintasi gelap menuju lampu depan mobil jip yang berkilat memantulkan cahaya remang. Dengan cekatan ketiganya melompat masuk, memutar kunci dan menyalakan mesin. Lampu menyala menerangi sebagian kecil ruangan. Jeritan kelaparan bergaung di seluruh ruangan. Arthur memasukkan gigi dan tancap gas menuju jalan keluar.


Mayat-mayat kelaparan itu berlari melebihi kecepatan manusia normal. Dalam waktu singkat, beberapa diantara mereka mampu mengejar buntut mobil. “Tidak bisa lebih cepat, Sir?” Will mengeluarkan senjata.


“Kelihatannya kita kelebihan muatan. Jika tidak keberatan, dapatkah kau ringankan lima puluh persennya saja, Will?” Arthur sibuk mengendalikan setir.


“Dengan senang hati.” Will menembakkan isi senjatanya.


“Maaf, Kolonel, jika anda berkenan.” Arthur menyerahkan senjata miliknya.


“Inilah yang kutunggu-tunggu sejak tadi, Sir.”


Kendaraan itu melaju melewati atau menggilas zombi-zombi yang menghadang jalan mereka. Arthur membelokkan kemudi dengan tajam, hampir melontarkan Will keluar. Mereka menerobos pagar besi untuk menghindari serangan di depan. Akibat kelokan tajam, kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Namun Arthur berhasil menstabilkannya. Sayangnya bahaya masih mengejar mereka. Semakin banyak zombi yang mengepung dari segala arah mendekati mereka dengan kecepatan konstan.


“Kolonel, tunjukkan arah!”


“Belok kanan sekarang!” Nasoetion memberi perintah.


Arthur membanting kemudi. Mereka melalui Jalan Braga. Salah satu zombi melompat dari atap rumah makan. Will bergerak spontan, ia menembak zombi itu tepat dikepalanya.


“Kerja bagus, Will!”


“Terima kasih, Sir!”


“Ambil kelokan kiri lalu lurus terus! Kita ambil jalur menuju Lembang!”


“Ini baru semangat, Kolonel!” Arthur menginjak pedal gas semakin dalam.


***


“Apa kita sudah cukup jauh dari jangkauan efek ledakan, Kolonel?!” Arthur bertanya memastikan.


“Kurasa, ini masih terlalu dekat!” Jawab Nasoetion ragu.


“Tidak ada waktu lagi, Kolonel! Sebaiknya kau menekan tombol itu sekarang! Kita kehabisan bahan bakar!”


“Apa sebaiknya kita menjauh sekitar satu kilometer lagi?!”


“Tidak akan cukup! Tekan tombolnya sekarang!” Perintah Arthur.


Will merebut pengendali itu lalu mengaktifkan transmiternya. Ia menekan semua tombol. Ledakan teredam terdengar dari jauh dan semakin lama semakin mendekat. Gumpalan api mengejar di belakang, membakar gedung dan zombi menjadi serpihan.


“Cepat, Sir! Kita akan terbakar!”


“Jangan meremehkan kemampuanku, Will!” Mobil jip yang mereka kendarai melompat begitu membentur trotoar, namun efek ledakan itu melempar para penumpangnya ke semak-semak. Arthur, Will dan Nasoetion bergegas bersembunyi dibalik pohon. Dentuman demi dentuman meluluhlantakkan segalanya, bahkan menggetarkan tanah. Semburan hawa panas memaksa ketiganya untuk berjalan semakin dalam menuju hutan. Will dan Nasoetion memapah Arthur yang berjalan terseok-seok.


“Kurasa, kejadian malam ini akan menjadi berita utama di surat kabar esok hari.” Arthur duduk menyandar di sebuah batang pohon. Ia meringis mencengkram kakinya.


“Anda baik-baik saja, Sir?”


“Patah kurasa. Tapi setidaknya kita berhasil melenyapkan para zombi itu.”


“Menurutmu begitu?” Kolonel muda itu mengalihkan pandangannya ke semak-semak yang bergemerisik.


“Oh, yang benar saja.” Gerutu Arthur. Wajah mereka bertiga berubah pucat.


NB; dilombakan di https://www.goodreads.com/topic/show/1784335-lomba-cerbul-kasfan-april-14?comment=97271882#comment_97271882

Tidak ada komentar:

Posting Komentar